Senin | Maret 20, 2006

Pengrajin Batu Lemper

Kami adalah pengrajin batu lemper. Pekerjaan ini kami warisi dari orang tua kami. Kami tidak tahu harus bekerja apa lagi, kalau kami tidak diperbolehkan lagi mengambil batu di kaki Bukit Sulap. Pernah kami mengikuti transmigrasi dan hanya mampu bertahan tiga bulan di tempat baru, selalu nyanyian bebatuan di kaki Bukit Sulap memanggil kami untuk bercengkrama. Kerajinan batu lemper ini telah ada sejak tahun 1960-an, jauh sebelum bukit ini ditetapkan menjadi kawasan TNKS. Tetapi, mengapa kami selalu disalahkan.

Beberapa orang di antara kami pernah ditangkap, toh setelah dilepaskan kami kembali lagi memenuhi panggilan bebatuan di sini. Banyak orang yang berterima kasih karena keberadaan kami, terutama ibu-ibu yang tidak mau menggunakan blender dan pedagang gado-gado.

Pernah, LSM mengajak duduk bersama untuk memecahkan masalah kami. Kami siap untuk tidak mengambil batu di bukit ini lagi, tetapi kami harus memperoleh jaminan tersedianya batu untuk membuat batu lemper. Kami yang berjumlah mencapai 60 orang butuh satu truk (sekitar 4 meter kubik) batu dalam sebulan, adakah solusinya? Menurut Pemerintah Kota Lubuklinggau, ada tempat alternatif mendapatkan batuan, yaitu bukit botak di daerah Tugumulyo Kabupaten Musi Rawas, tapi menurut kawan-kawan LSM ini hanya memindahkan masalah.

Baru-baru ini Pemerintah Kota membentuk tim untuk menyelesaikan persoalan kami, dengan melibatkan sebuah LSM dan seluruh jajaran dinas terkait, dan itu sekitar dua bulan yang lalu. Sampai saat ini kami dipenuhi keraguan, karena tidak ada kepastian tentang nasib kami nanti dan solusi apa yang dihasilkan tim untuk membantu kami. Untuk pindah pekerjaan kami belum siap, karena hanya ini keahlian kami.

Posted by at 12:24:56 | Permanent Link | Comments (2) |